Kawan, sudah cukup lama saya tidak meng-update blog ini. Maafkan ya… hehehe ^__^.
Selama ini saya sering kalah oleh oleh kemalasan saya sendiri.
Jadinya saya merasa kemalasan itu adalah musuh yang tidak nampak. Bahkan
kemalasan mengadu domba berbagai aktifitas yang tentunya satu dengan
yang lain nilainya baik. Maksud saya, banyak aktifitas-aktifitas saya
(seperti update blog ini) yang tidak jalan karena kemalasan tadi tapi
menimpakan alasannya kekesibukan yang lainnya. Memang kita harus selalu
menginstropeksi diri kita sesering mungkin. Untuk mengingatkan dan
meluruskan niat kita lagi yang mulai menclang-menclong.
Kawan, saat saya membuka-buka file lama, saya menemukan sebuah
artikel menarik tentang kisah sebuah meja kayu. Sebuah kisah sederhana
yang membuat saya berfikir bahwa kelakuan buruk -apalagi terhadap orang
tua- yang kita lakukan sekarang, bisa jadi terjadi juga menimpa kita
dimasa tua.
Dan saya ingin sekali membagi cerita itu dengan kawan-kawan semua.
Harapan saya, cerita ini membawa manfaat untuk anda dan khususnya
sebagai pengingat saya dikemudian hari. Saya mohon agar kawan-kawan
semua berkenan mengingatkan saya jika khilaf sedang menyelimuti saya
entah kapan dan dimana.
Meja Kayu
Suatu ketika, ada seorang kakek yang harus tinggal dengan anaknya.
Selain itu, tinggal pula menantu, dan anak mereka yang berusia 6 tahun.
Tangan orangtua ini begitu rapuh, dan sering bergerak tak menentu.
Penglihatannya buram, dan cara berjalannya pun ringkih. Keluarga itu
biasa makan bersama di ruang makan.
Namun, sang orangtua yang pikun ini sering mengacaukan segalanya.
Tangannya yang bergetar dan mata yang rabun, membuatnya susah untuk
menyantap makanan. Sendok dan garpu kerap jatuh ke bawah. Saat si kakek
meraih gelas, segera saja susu itu tumpah membasahi taplak.
Anak dan menantunya pun menjadi gusar. Mereka merasa direpotkan
dengan semua ini. “Kita harus lakukan sesuatu, ” ujar sang suami. “Aku
sudah bosan membereskan semuanya untuk pak tua ini.” Lalu, kedua
suami-istri ini pun membuatkan sebuah meja kecil di sudut ruangan. Di
sana, sang kakek akan duduk untuk makan sendirian, saat semuanya
menyantap makanan. Karena sering memecahkan piring, keduanya juga
memberikan mangkuk kayu untuk si kakek.
Sering, saat keluarga itu sibuk dengan makan malam mereka, terdengar
isak sedih dari sudut ruangan. Ada airmata yang tampak mengalir dari
gurat keriput si kakek. Namun, kata yang keluar dari suami-istri ini
selalu omelan agar ia tak menjatuhkan makanan lagi. Anak mereka yang
berusia 6 tahun memandangi semua dalam diam.
Suatu malam, sebelum tidur, sang ayah memperhatikan anaknya yang
sedang memainkan mainan kayu. Dengan lembut ditanyalah anak itu. “Kamu
sedang membuat apa?”. Anaknya menjawab, “Aku sedang membuat meja kayu
buat ayah dan ibu untuk makan saatku besar nanti. Nanti, akan kuletakkan
di sudut itu, dekat tempat kakek biasa makan.” Anak itu tersenyum dan
melanjutkan pekerjaannya.
Jawaban itu membuat kedua orang tuanya begitu sedih dan terpukul.
Mereka tak mampu berkata-kata lagi. Lalu, air mata pun mulai bergulir
dari kedua pipi mereka. Walau tak ada kata-kata yang terucap, kedua
orangtua ini mengerti, ada sesuatu yang harus diperbaiki. Malam itu,
mereka menuntun tangan si kakek untuk kembali makan bersama di meja
makan. Tak ada lagi omelan yang keluar saat ada piring yang jatuh,
makanan yang tumpah atau taplak yang ternoda. Kini, mereka bisa makan
bersama lagi di meja utama.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar